Model Virtual Learning Berbasis Moda Mixded Realty

 Model Virtual Learning Berbasis Moda Mixded Realty

 

Narasumber

Dr.Eni Kuswati, S.Pd.,M.Pd

 

Pendahuluan

Dunia pendidikan saat ini ditandai dengan munculnya konsep aplikasi virtual learning. Kondisi tersebut telah menggeser pola metode konvensional ke arah digital. Era digital merupakan era dimana semua aktivitas manusia berbasis online, saat ini dikenal dengan istilah era revolusi industri 4.0, era dimana teknologi cyber dan teknologi otomatisasi dikolaborasikan yang konsep implementasinya berpusat pada konsep otomatisasi yang prosesnya mengandalkan cara kerja mesin. Salah satu dari beberapa teknologi yang menjadi pilar utama perkembangan revolusi industri 4.0 dalam dunia pendidikan adalah moda Mixed reality. Paduan tren teknologi di dunia pendidikan khususnya pembelajaran yang mengkombinasikan teknologi AR dan VR yang disebut moda mixed Reality sudah sangat berkembang pesat. Hal itu pula yang menuntut pendidik untuk dapat mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan moda mixed reality dalam proses pembelajaran.

Konsep moda mixed reality awalnya dirumuskan oleh Paul Milgram dan fumio kishino pada tahun 1994. Dalam bukunya yang bertajuk ‘ A taxonomy of Mixed Reality visual displays” memperkenalkan virtuality continuum (berupa tampilan ) belum memasukan unsur lingkungan, suara dan lokasi.  Tiga komponen utama dalam moda mixed reality adalah Human, computer dan environment. Ketiganya menggabungkan dan berkolaborasi dalam human computer interaction, conventional reality dan perception. Penggabungan Input manusia dam komputer terjadi melalui keyboard, mouse, touching, suara, ink hingga kinect tracking yang berinteraksi membentuk environmental input. Moda Mixed Reality dapat meningkatkan daya berpikir imajinatif, creativity bagi guru dan terutama siswa yang dapat menstimulus dirinya saat proses pembelajaran berlangsung dan membawa dampak positif.

Berdasarkan data awal survay tentang keefektifan virtual learning pada bulan februari 2020 sebelum pelaksanaan bimtek online fogipsi melalui pusat belajar kudus, yang menjadi subyek pengamatan adalah forum guru IPS seluruh Indonesia (FOGIPSI) dan yang menjadi responden adalah pengurus pusat fogipsi sebanyak 65 dari perwakilan wilayah di Indonesia.  Diperoleh hasil prosentase sebagai berikut : 24,6% dengan menjawab virtual learning berbasis moda mixed reality tidak efektif digunakan. 75,4 % menjawab virtual learning bebasis moda mixed Reality efektif digunakan untuk pembelajaran namun belum maksimal. Untuk pertanyaan seberapa sering selama ini menggunakan moda reality dan hasil survey 17,1 % menjawab sering menggunakan moda mixed Reality, 29,3% menjawab kadang-kadang menggunakan moda mixed reality, 53,6 % tidak menggunakan moda mixed reality.

Beberapa alasan kelemahan penggunaan model virtual learning berbasis moda mixed reality dari hasil survey dapat disimpulkan belum sepenuhnya efektif dan belum dapat dilaksanakan secara maksimal disebabkan kurangnya pemahaman virtual learning berbasis moda mixed reality disamping sarpras atau fasilitas yang kurang memadai. Kurangnya pemahaman guru tentang mixed reality membuktikan penggunaan virtual learning berbasis moda  virtuality dan augumentlity masih dibawah standart dalam pembelajaran. Beberapa guru masih belum maksimal dan diharapkan adanya pelatihan bagi guru dan tersedianya tools dan sarpras pembelajaran dengan moda mixed Virtuality.

Sejalan dengan hasil riset bank dunia yang menyatakan bahwa kondisi negara kita sangat tertinggal, dimana Indonesia perlu 45 tahun (hampir setengah abad) mengejar ketertinggalan dalam bidang pembelajaran dan perlu 75 tahun untuk mengejar ketertinggalan khususnya pembelajaran berbasis ICT. Era ICT ini harus melahirnya “The New Generation” yang lebih mengandalkan ICT dalam menyelesaikan masalah sosial atau masalah ekonomi, Yazid (2018).

Fenomena generasi digital yang sangat ketergantungan dengan ICT mulai dari penggunaan gawai, perilaku instan, digital culture menjadi bagian utama kehidupan millenials yang semua sumber informasi actual terbuka dan saat proses pembelajaran dapat di akses dengan mudah sangat dibutuhkan di pembelajaran era millenials. Bagi mata pelajaran tertentu yang membutuhkan objek langsung tidak perlu lagi observasi langsung ke lapangan tetapi dapat dllakukan melalui moda virtuality atau augmentlity untuk mendapatkan informasi atau wawasan tersebut sehingga pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Adapun deskripsi mengenai proses pembelajaran virtual learning berbasis mixed reality menurut survey media sosial mendapat respon baik dari guru karena termasuk respon yang dirasakan siswa. Kesimpulan pembelajaran virtual learning yang dikembangkan dengan metoda mixed reality (moda virtual reality dan Augumented reality ) membutuhkan bantuan tools berupa perangkat virtual seperti kacamata VR hololens, camera VR, tablet/laptop AR core, jaringan internet, media pembelajaran basis VR dan AR, AR app dan aplikasi lain yang harus dipenuhi serta dibutuhkan pelatihan untuk menambah wawasan guru tentang moda mixed reality.

Kajian Pustaka

  1. Konsep Virtual Reality

Menurur  Hillis,  (1999:  xv), Virtual  Reality  menyatukan  dunia  teknologi  dan  kemampuannya  untuk mempresentasikan alam, dengan bidang yang luas dan tumpang tindih mengenai hubungan sosial dan makna.

Definisi-definisi menurut Krieger, 1986; Benedikit, 1991; Biocca, 1992; Robinett,1992; Pinsky, 1993) Virtual reality didefinisikan secara luas sebagai suatu simulasi yang dihasilkan komputer atau presentasi dari lingkungan dimana pengguna mengalami rasa kehadiran fenomenologis atau keterlibatan dalam lingkungan.

Pembelajaran berbasis teknologi Virtual  Reality dapat digunakan   untuk   menunjang   pendidikan serta meningkatkan efektivitas belajar siswa. Misalnya penerapan teknologi Virtual Reality dapat digunakan dalam  proses  belajar  matematika  yang  berkaitan  dengan  topik  pembahasan  geometri.  Dengan teknologi virtual reality siswa dapat bereksperimen menirukan berbagai objek yang ada disekitarnya. Teknologi Virtual Reality juga bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran biologi yakni  pemodelan proses pembelahan sel, selain itu teknologi Virtual Reality dapat digunakan untuk pembelajaran lain seperti mata pelajaran IPS yang kompleks.  Perangkat lunak untuk visualisasi dunia virtual telah dirancang agar mudah digunakan (user-friendly), maka siswa bisa menelusuri dunia virtual yang diciptakan secara interaktif.

  1. Konsep Augmented Reality

Augmented Reality ( AR ) adalah sebuah istilah untuk lingkungan yang menggabungkan dunia nyata dan dunia virtual yang dibuat oleh komputer sehingga batas antara keduanya menjadi sangat tipis. Sistem ini lebih dekat kepada lingkungan nyata “real”, karena itu, reality lebih diutamakan pada sistem ini “Brian, 2012”.

Augmented  Reality adalah  teknologi  yang  menggabungkan  benda  maya  dua  dimensi  dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda– benda maya tersebut dalam waktu nyata.Tidak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, namun Augmented Reality hanya menambahkan atau melengkapi kenyataan.

Benda-benda maya menampilkan informasi yang tidak dapat diterima oleh pengguna dengan inderanya sendiri. Hal ini membuat Augmented Reality sesuai sebagai alat untuk membantu persepsi dan  interaksi  penggunanya  dengan  dunia  nyata.Informasi  yang  ditampilkan  oleh  benda  maya membantu pengguna melaksanakan kegiatan – kegiatan dalam dunia nyata.

  1. Konsep Mixed Reality

Mixed Reality yaitu pengabungan virtual reality dan augumented reality (menurut ahli)   Konsep mixed reality pada 1994 dirumuskan oleh Paul Milgram dan Fumio Kishino dalam makalah berjudul “A Taxonomy of Mixed Reality Visual Displays.” Dalam makalah ini, mereka memperkenalkan konsep virtually continuum yang fokus pada pengkategorian taksonomi pada tampilan belaka. Namun, pada penerapannya kedepan, MR tak sekadar tampilan, tapi juga memasukkan input lingkungan, suara, dan lokasi.

Selama beberapa dekade, hubungan antara input manusia dan komputer dikembangkan lagi secara lebih baik. Input manusia terjadi melalui keyboard, mouse, sentuhan, ink, suara, bahkan Kinect tracking. Hubungan keduanya kemudian berinteraksi membentuk persepsi lingkungan (environmental input) dalam bentuk API. Environmental input menangkap berbagai hal yang dilakukan seseorang, mulai dari posisi & lokasinya, permukaan tanah dan pembatas jalan, ambiens lighting, suara lingkungan, dan pengenalan objek. Secara sederhananya, MR merupakan penggabungan interaksi ketiga input tersebut.

Kembali pada pengertian VR dan AR. Sebagaimana diketahui, teknologi VR memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan objek secara 3D. Interaksi yang terjalin sungguh seperti nyata, ada emosi dan perasaan yang terbawa, selayaknya kita larut menyimak serial tv atau film.

Teknologi augmented reality, di lain sisi, menggabungkan objek 2D dan 3D. Apabila hendak menggunakan perangkat pendukung AR, objek-objek itu akan hadir di hadapan kita secara real-time. Untuk bisa melihat objek, harus menggunakan perantara, yakni kamera hp. Baik teknologi AR maupun VR sudah diterapkan di berbagai bidang, seperti militer, kesehatan, gim, dan pendidikan. Teknologi Mixed virtuality, selalu memberikan manfaat bagi kehidupan khususnya bagi pendidikan, hal ini membuktikan bahwa teknologi ini lebih banyak memberikan dampak positif  ketimbang dampak negatif.

Berikut ini adalah beberapa benefit dalam  penggunaan mixed Reality dalam pembelajaran :

  • Teknologi mixed virtuality dapat membantu siswa untuk mengeksplorasikan diri.
  • Dapat meningkatkan daya pikir, daya imajinatif dam kreatifitas siswa
  • Tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk mendapatkan obyek secara langsung karena siswa hanya melakukan simulasi buatan saja dengan bantuan teknologi virtual reality dan augumented reality
  • Siswa dapat menciptakan suasana belajar yang menarik, menyenangkan e) Meningkatkan menstimulus dan semangat belajar bagi siswa.
  • Menciptakan siswa cerdas dan berkarakter
  • Bagi guru, teknologi mixed virtuality dapat dijadikan perantara untuk mempermudah dalam hal penyampaian materi, serta dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang dapat meningkatkan efektivitas belajar siswa.

 

Metodologi

Penelitian  ini ditinjau   dari   jenis   data   dan   analisisnya   termasuk penelitian mixed-method dari studi longitudinal pembelajaran secara online dan offline. Sumber Data berupa hasil observasi dan sejumlah kuesioner sebelum dan sesudah pembelajaran untuk guru. Guru yang terlibat menjadi sample dalam survey sejumlah 65 guru IPS dari jumlah guru yang tergabung dalam fogipsi. Data yang ada dalam penelitian ini dianalisis dengan analisis  kuantitatif-kualitatif

Teknik pengumpulan data  dilakukan dengan penyebaran angket,  observasi, dan dokumentasi. Ketiga teknik tersebut dilakukan secara simultan kepada subjek  (guru ) Instrumen pengumpulan data yang dikembangkan (1) angket (menyebar instrumen berupa Quisioner/ Pertamyaan terbuka melalui media sosial),   (2) observasi (studi literasi-studi lapangan dilakukan pengamatan langsung ), (3) studi dokumentasi (Foto-foto kegiatan).

 

 

 

 

 

 

Hasil dan Pembahasan

 

Tabel  analisis hasil pengguna untuk mengidentifikasi seberapa efektif moda mixed reality ini dapat membantu guru.

 

Tabel Efektivitas Moda Mixed Reality

 

No Aspek Skor Rata-rata % kriteria
1. Efektifitas 573 4.77 96 Sangat efektif
2. Ketertarikan 361 4.51 91 Sangat efektif
3. Sesuai kebutuhan 373 4.66 94 Sangat efektif
4. Penerapan 530 4.41 89 Sangat efektif
Total 1833 18.32 367 Sangat efektif
Average 458.26 4.59 93% Sangat efektif

 

Berdasarkan Tabel, dapat dilihat bahwa setiap aspek memiliki presentasi yang berbeda. Aspek efektivitas memiliki 96% presentasi, aspek daya tarik adalah 91%, sesuai dengan kebutuhan adalah 94%, dan aspek pelaksanaannya adalah 89%. Sehingga rata-rata keempat aspek ini adalah 93% dengan kriteria yang sangat efektif.

Moda mixed reality dengan tingkat efektivitas yang cukup tinggi digunakan sebgai pendukung media pembelajaran. Mengingat sangat efektif dan effisien untuk digunakan daripada moda lainnya, sehingga metoda mixed reality diyakini oleh para guru untuk menjadi moda yang lebih efektif dan lebih mudah dilakukan secara berkelanjutan. Moda Mixed reality yang memiliki karakteristik praktis, efektif, fleksibel. Dengan memprioritaskan aspek ketertarikan yang ditawarkan, itu akan mempengaruhi sikap pengguna dalam menggunakan mixed reality.

Selain itu, Moda mixed reality  memberikan kemudahan dan sensasi bagi guru, khususnya siswa untuk menggunakannya. Kombinasi AR dan VR bertujuan untuk membantu meringankan guru dari proses pembelajaran. Dengan demikian, moda mixed reality merupakan  materi pembelajaran dapat diperkaya dengan berbagai sumber daya belajar termasuk multimedia. Dengan sistem pembelajaran ini, diharapkan dapat membantu memaksimalkan guru dalam kegiatan belajar.

Kesimpulan

Moda mixed reality sangat efektif untuk digunakan sebagai aplikasi dalam pembelajaran. Selain itu, mixed reality juga efektif, menarik, memberi sensasi pada penggunanya. Implikasi teoritis adalah model moda mixed reality dan implikasi praktis dalam bentuk media –media pembelajaran yang dapat digunakan oleh para guru dengan pembelajaran online dan sistem pembelajaran offline.

Implikasi teoritis adalah model moda mixed reality dan implikasi praktis dalam bentuk media –media pembelajaran yang dapat digunakan oleh para guru dengan pembelajaran online dan sistem pembelajaran offline.

 

Referensi

Ibnu arifin (2018), Pengaruh penggunaan aplikasi Virtual Reality terhadap Hasil belajar siswa pada materi sistem tata surya. Universitas Lampung

Penggalih (2018),   Mahardika   herlambang,   Lukman   Aryoseto, Potensi   Virtual   Reality   berbasis smartphone sebagai media belajar mahasiswa kedokteran. UNS.

Eni Kuswati (2020) Development of Learning Management System (LMS) Application Based on Hybrid Learning (Ekle). International journal of advances science and technology.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *